Seni dan Irama Dalam Bersuci [1]
Oleh: Zamhasari Jamil
ASSALAmu’alaikum Wr. Wb; Para pembaca dan para pendengar Irama Dakwah yang budiman, amma ba’du.
Pada pertemuan kita yang kedua di Pondok Irama Dakwah ini, penulis akan mencoba untuk menghidangkan sebuah seni dan irama dalam bersuci yang merupakan syarat mutlak sebelum kita mendirikan sholat.
Sebagaimana yang sudah kita ketahui bersama bahwa sebelum kita mendirikan sholat, terlebih dahulu kita harus mensucikan diri kita dari hadats kecil dengan cara berwudhu’ dan dari hadats besar dengan melakukan mandi wajib. Untuk memudahkan kita dalam memahami seni dan irama dalam bersuci ini, penulis akan menghadirkan bang Fahman Kamil untuk mengulas tema ini. Fahman Kamil, sebagaimana yang telah kami perkenalkan kepada para pembaca dan para pendengar Irama Dakwah dalam pertemuan yang pertama dahulu, adalah pelajar asal Riau, lulusan Department of Islamic Studies, Jamia Millia Islamia, New Delhi.
Zamhasari Jamil (ZJ): Assalamu’alaikum, bang Fahman. Sebelum kita meneruskan pembicaraan kita pada pertemuan yang kedua ini, terlebih dahulu saya ingin mengucapkan "Selamat Datang" kepada bang Fahman dan para pembaca dan para pendengar Irama Dakwah di Pondok Irama Dakwah ini. Bagaimana kabar abang, para pembaca dan para pendengar Irama Dakwah hari ini? Do’a dan harapan saya tentunya semoga abang, para pembaca dan para pendengar Irama Dakwah tetap sukses selalu dalam segala aktivitas sehai-hari. Amien ya Rabb.
Fahman Kamil (FK): Wa’alaikumsalam, Zam. Alhamdulillah, saya baik-baik saja. Terima kasih atas do’a dan harapannya serta harapan yang sama dari saya juga buat Izam.
ZJ: Bang Fahman, seperti yang sudah kita sepakati bersama bahwa pada kesempatan ini kita akan berbicara mengenai seni dan irama dalam bersuci. Yang ingin saya tanyakan adalah, apakah yang dimaksud dengan bersuci itu bang?
FK: Suatu pertanyaan yang cukup bagus sekali. Yang dimaksud dengan bersuci disini adalah membersihkan diri kita dari segala macam hadats, baik itu berupa hadats kecil maupun hadats besar serta membersihkan diri kita dan pakaian yang kita kenakan dari segala macam bentuk najis, baik itu berupa najis ringan, najis pertengahan maupun najis berat.
ZJ: Bang Fahman, apa yang dimaksud dengan hadats kecil dan hadats besar itu serta bagaimana cara bersuci dari kedua hadats tersebut?
FK: Sebelum saya menjelaskan hadats besar dan hadats kecil tersebut, perlu saya sebutkan disini bahwa hadats itu adalah suatu perkara yang dapat menghalangi sahnya sholat atau ibadah seseorang. Untuk itu, hadats tersebut harus dihilangkan terlebih dahulu sebelum kita mendirikan sholat supaya sholat atau ibadah yang kita lakukan tersebut menjadi sah dan diterima oleh Allah SWT. Nah, adapun yang dimaksud dengan hadats kecil disini atau lebih tepatnya seseorang itu disebut berhadats kecil, apabila: 1) Keluar sesuatu dari kubul dan dubur (buang air kecil, buang air besar, dan kentut). 2) Tidur nyenyak dalam keadaan berbaring. 3) Hilang akal karena mabuk atau gila. 4) Menyentuh kemaluan dengan menggunakan telapak tangan.
Sedangkan yang dimaksud dengan hadats besar atau seseorang itu berhadats besar, apabila: 1) Keluar air mani baik karena sengaja atau tidak disengaja. 2) Bersenggama atau melakukan hubungan badan antara suami dan isteri. 3) Datang bulan bagi wanita atau disebut juga dengan menstruasi (haid). Dan 4) Keluar darah setelah melahirkan (nifas). Demikian itulah yang disebut dengan hadats kecil dan hadats besar. Adapaun cara bersuci dari hadats tersebut dapat ditempuh dengan cara, pertama, berwudhu’; kedua, mandi wajib; dan ketiga, tayammum.
ZJ: Sebagaimana yang abang katakana tadi, bahwa bersuci dari hadats itu dapat ditempuh melalui berwudhu’, mandi wajib dan tayammum. Nah, apakah pengertian berwudhu’ tersebut dan bagaimana cara berwudhu’ yang sempurna itu bang?
FK: Saya kira pertanyaan itu cukup menarik sekali dan sangat pantas untuk diajukan, mengingat selama ini masih banyak saudara-saudari kita yang belum memahami pengertian wudhu’ itu sendiri serta mengetahui tata cara melakukan wudhu’ secara tepat dan benar. Perlu saya tegaskan dan saya ingatkan kembali bahwa pengertian wudhu’ itu adalah bersuci dari hadats kecil (saja) dengan menggunakan air mutlak atau disebut juga dengan air yang suci dan menyucikan.
Menurut para ulama fiqh (pakar hukum Islam) bahwa air mutlak itu terdiri dari tujuh macam, yaitu, 1) air hujan; 2) air sungai; 3) air laut; 4) air mata air; 5) air salju; 6) air embun; dan 7) air sumur atau air telaga. Air-air yang disebutkan diatas tadi boleh digunakan untuk berwudhu’ dan boleh pula digunakan untuk melakukan mandi wajib karena air-air itu tadi memiliki sifat suci dan dapat pula mennyucikan.
Adapun perintah berwudhu’ sebelum mendirikan sholat dan tata cara pelaksanaan wudhu’ tersebut telah disebutkan oleh Allah SWT di dalam Q.S. Al-Maidah: 6. Artinya, "Hai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak mendirikan sholat, maka basuhlah mukamu dan kedua tanganmu (dari ujung jari) sampai ke siku, lalu usaplah kepalamu (pangkal rambut) dan kemudian basuhlah kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki". Ayat ini menjelaskan tentang perintah berwudhu’ pada anggota badan yang pokok (utama) saja. Kemudian Rasulullah SAW telah pula menerangkan di dalam banyak hadits mengenai beberapa hal yang sunnah dilakukan dalam berwudu’ itu.
ZJ: Bang Fahman, karena berwudhu’ ini memang sangat menentukan sekali terhadap keshahihan (sah) sholat dan ibadah kita, bagaimana kalau abang jelaskan saja tata cara berwudhu’ tersebut secara sempurna beserta hal-hal sunnah yang dilakukan dalam berwudhu’ itu sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW?
FK: Nah, ini suatu permintaan yang cukup menarik sekali dan saya senang mendengarnya. Memang tak sia-sia kamu berkutab (baca: mengikuti sekolah petang) di Madrasah Ibtidaiyah Al-Washliyah (MIA), Madrasah Ibtidaiyah Mu’allimin dan Madrasah Ibtidaiyah Simpang Pelita sewaktu kamu masih kecil dahulu itu. Saya yakin kamu masih ingat kalau kamu itu suka menangis di MIA kalau ditinggal oleh andung Posah (almh) sehingga andung pun harus rela menunggu cucu pertamanya ini di depan pintu kelas MIA hingga proses belajar-mengajar selesai. Baiklah Zam, mengenai tata cara berwudhu’ itu, dapat saya sampaikan berikut:
1) Dimulai dengan membaca "Bismilillaahirrahmaanirrahiim", sambil membersihkan kedua belah tangan. 2) Berkumur-kumur tiga kali sambil membersihkan gigi. 3) Setelah berkumur-kumur, diteruskan dengan membersihkan hidung dengan cara menghirup air ke rongga hidung dan mengeluarkannya kembali (sampai tiga kali). 4) Setelah membersihkan hidung, kemudian basuhlah muka sampai batas tumbuh rambut, kedua telinga dan dagu (sebanyak tiga kali). Apabila berjanggut, maka usaplah disela-sela janggut dengan jari-jari tangan yang masih basah. Adapun pada saat membasuh muka, maka berniatlah (di dalam hati) sebagai berikut: "Aku sengaja berwudhu' untuk menghilangkan hadats kecil karena Allah Ta'ala."
5) Kemudian basuhlah kedua tangan dimulai dari ujung-ujung jari hingga siku (sebanyak tiga kali), dimulai dari tangan sebelah kanan dan kemudian setelah itu tangan sebelah kiri. 6) Kemudian setelah itu, usaplah kepala dengan mengarahkan jari-jari tangan ke sela-sela rambut hingga menyentuh kulit kepala. Tangan diarahkan dari bagian belakang, kemudian kembali lagi ke depan. 7) Selesai mengusap kepala, diteruskan dengan membersihkan kedua telinga dengan cara memasukkan jari telunjuk ke sela-sela kuping bagian dalam dan tempelkan ibu jari di bagian bawah luar daun telinga, lalu diputar ibu jarinya sampai ke atas. 8) Membasuh kedua kaki sampai mata kaki atau lebih (sebanyak tiga kali), dengan menggosok sela-sela jari kaki dengan jari-jari tangan. Dimulai dari kaki sebelah kanan, kemudian kaki sebelah kiri. 9) Apabila telah selesai membasuh kedua kaki, maka menghadaplah ke arah kiblat sambil berdo'a, "Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan tiada pula sekutu baginya. Dan bersaksi bahwa Rasulullah Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya."
ZJ: Bang Fahman, setelah saya mendengar penjelasan abang ini, saya menjadi bertanya kepada diri saya sendiri, sudah sempurnakah wudhu’ saya selama ini? Semoga Allah SWT mengampuni segala kesalahan dan kekurangan saya selama ini bila memang tata cara saya dalam berwudhu’ belum sempurna. Insya Allah, saya akan berusaha menyempurnakan tata cara dalam berwudhu’ ini. Oh iya bang Fahman, apakah berwudhu’ ini juga memiliki fungsi lain selain bersuci atau apakah ada makna lain yang tersirat di balik proses berwudhu’ itu?
FK: Tentu saja ada. Dengan berwudhu’, hendaklah kita juga berusaha untuk membersihkan segala jenis dan bentuk penyakit hati yang ada di dalam diri kita, seperti penyakit iri dan dengki, cemburu yang bukan pada tempatnya dan suka atau mudah marah kepada orang lain tanpa ada alasan yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan. Dengan berwudhu’, kita kita juga dituntut untuk menjaga diri kita agar tetap bersih dari segala macam dosa. Satu hal yang perlu kita ingat ketika kita berwudhu’ adalah supaya kita menggunakan air secara hemat dan tidak menggunakan air secara berlebihan.
Selain itu anjuran membaca Basmalah sebagaimana yang disunnahkan oleh Rasulullah SAW adalah untuk mengingatkan kita bahwa setiap pekerjaan yang kita lakukan hendaklah dimulai dengan menyebut nama Allah SWT (Bismillahirrahmanirrahim). Kemudian proses membersihkan kedua belah tangan memberikan isyarat kepada kita supaya kita tidak menyentuh benda-benda haram dan tidak pula mengambil atau merampas barang-barang atau benda yang bukan hak dan milik kita.
Begitu pula dengan anjuran berkumur-kumur dan membersihkan hidung mengingatkan kita agar tidak melakukan ghibah, gossip, mengatai-ngatai serta mencaci-maki yang bertujuan untuk menjelek-jelekan orang lain. Mulut yang merupakan "pintu utama" masuknya makanan dan minuman ke dalam perut kita juga harus bersih dan tetap terjaga sehingga jangan sampai ada makanan dan minuman yang haram masuk ke dalam perut kita melalui mulut tersebut. Kemudian anjuran Rasulullah SAW untuk membersihkan hidung mengajarkan kita supaya kita tetap menjaga hidung kita sehingga kita tidak terjerumus kedalam praktek mencium dan menghiap atau menghirup barang-barang berbahaya seperti narkotika dan beberapa obat terlarang lainnya.
Perintah membasuk muka sampai pada batas tumbuhnya rambut, kedua belah pipi hingga telinga dan dagu mengajarkan kepada kita kita tetap berpihak kepada kebenaran dan tidak berpaling kepada hal-hal yang bathil. Adapun perintah mengusap kepala memberikan isyarat kepada kita agar kita tetap menggunakan akal kita untuk berfikir menegakkan keadilan dan kebenaran di muka bumi ini, bukan digunakan untuk memikirkan hal-hal yang negative seperti berfikir mencari celah berbuat korupsi dsb.
Anjuran Rasulullah SAW suapay membersihkan kedua telinga juga memiliki makna tersendiri, yaitu kita tetapa enjaga telinga atau pendengaran kita dari hala-hal negatif dan pembicaraan-pembicaraan kosong yang tidak membaca manfaat. Sebaliknya kita diajak oleh Rasulullah SAW untuk mendengarkan hal-hal yang positif dan pembicaraan-pembicaraan yang bermanfaat dan dapat menambah ilmu sehingga mampu mendatangkan ridho Allah SWT kepada kita.
Perintah Allah SWT untuk membasuk kaki mengajakan kita agar kita tidak menggunakan kaki kita tersebut untuk melangkah menuju tempat-tempat maksiat, seperti bar, diskotik dan warung-warung dunia gemerlapan. Lalu anjuran Rasulullah SAW untuk berdo’a kepada Allah SWT sambil menghadap kiblat tersebut adalah untuk mengingatkan kita semua bahwa kita yang hidup di dunia yang sangat sebentar ini benar-benar berjalan, berbuat dan bertindak sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dan diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Perlu diketahui bahwa sebenarnya masih banyak makna-makna yang tersirat didalam proses berwudhu’ itu. Namun, dengan segala keterbatasan ilmu yang saya miliki dan kekurangan-kekurangan yang masih banyak melekat pada diri saya, maka saya tak dapat menyebutkannya secara sempurna disini. Tak lupa pula, saya bermohon dan bermunajat kepada Allah SWT semoga Allah SWT berkenan mengampuni kesalahan-kesalahan saya bila di dalam bahasan yang sangat sederhana ini terhadap hala-hal yang bukan pada tempat yang semestinya. Amien ya Rabb.
ZJ: Subhanallah …, saya menjadi terharu mendengar ulasan bang Fahman ini. Dan saya juga masih ingin tahu lagi bang tentang keistimewaan bagi orang-orang yang senantiasa tetap menjaga wudhu’nya.
FK: Menanggapi pertanyaan ini, saya jadi teringat dengan firman Allah SWT dalam Q.S. Al-Baqarah: 222. Artinya, "Sesungguhnya Allah SWT menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri (dawamul wudhu’ atau mengkontinyukan air sembahyang)". Dan Rasulullah SAW juga pernah bersabda, yang artinya, "Bersuci itu merupakan sebagian daripada iman". Orang-orang yang senantiasa tetap dalam keadaan berwudhu’ akan memiliki wajah yang bercahaya dan sedap dipandang mata.
Senyuman orang-orang yang senantiasa dalam keadaan berwudhu’ itu akan membuat hati yang memandangnya akan merasa tenang. Bahkan wajah-wajah yang senantiasa dibasahi oleh siraman air wudhu’ akan bercahaya terang di hari kiamat nanti. Dan itu akan mempermudah Rasulullah SAW untuk mengenal umatnya. Karena itu, beruntunglah orang-orang yang senantiasa menjaga dirinya selalu dalam keadaan berwudhu’. Bagi kita yang belum membiasakan diri kita untuk tetap dalam keadaan berwudhu’, mari kita mulai dari sekarang. Sebab, kapan lagi kita barus memulainya bila tidak dari sekarang, padahal umur kita semakin hari semakin berkurang.
ZJ: Subhanallah …, betul sekali apa yang abang sampaikan ini. Bang Fahman, sebenarnya masih ada dua bahasana lagi yang akan kita bicarakan, yaitu mandi wajib dan tayammum. Bagaimana menurut abang mengenai dua bahasan yang belum sempat kita bicarakan ini?
FK: Begini saja, hal-hal yang berkenaan dengan mandi wajib dan tayammum akan kita bahas pada pertemuan yang akan datang. Lagi pula, sekarang saya juga akan menyelesaikan tugas-tugas kuliah saya terlebih dahulu. Belum lagi pakaian saya yang sudah direndam bebepa hari ini belum sempat dicuci dan dikeringkan, bahkan ada kemungkinan pakaian-pakaian yang saya rendam itu sudah menjadi tape. Untuk itu, saya harus mengakhiri pembicaraan kita pada pertemuan ini. Insya Allah kita akan bersua lagi di tempat yang sama, Pondok Irama Dakwah yang kita cintai ini. Jadi, saya mohon maaf karena tidak bisa berlama-lama di sini, dan perkenankan saya untuk mohon diri, assalamu’alaikum.
ZJ: Bang, mantap juga kalau di bilik abang ada tape pakaian, pasti lebih wangi baunya bila dibandingkan dengan tape Basmati buatan Ikhsan, hehehehe. Okelah bang Fahman, tulang sumsum punggung saya juga sudah mulai berdenyut. Dan saya sangat sepakat dengan ide cemerlang abang ini supaya pembicaraan kita diteruskan pada pertemuan yang akan datang saja, dan selamat menikmati aroma tape pakaian, dan wa’alaikumsalam bang Fahman.
Para pembaca dan para pendengar Irama Dakwah yang budiman, karena padatnya kegiatan bang Fahman ini, maka demikian dulu sekilas pembicaraan penulis dengan Fahman Kamil pada pertemuan yang kedua ini. Insya Allah, Fahman Kamil akan kembali hadir di Pondok Irama Dakwah yang sangat romantis ini pada waktu yang akan datang. Selamat menikmati hari-hari anda, dan tetaplah bersama kami. Wassalamu’alaikum Wr. Wb. []
Zamhasari Jamil, Pelajar Ilmu Politik asal Riau di Aligarh Muslim University, India.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home