Seni dan Irama Belajar Al-Qur’an
Oleh: Zamhasari Jamil
ASSALAmu’alaikum Wr. Wb; Para pembaca dan para pendengar Irama Dakwah yang budiman, amma ba’du.
Pada pertemuan kita yang pertama ini, perkenankan penulis mengetengahkan sebuah seni dan irama dalam mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak. Mengapa yang menjadi sasaran dalam mengajari Al-Qur’an ini adalah anak-anak? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, sekaligus untuk menumbuhkan rasa keasikan para pembaca dan para pendengar dalam menikmati untaian-untaian irama dakwah ini, penulis menyarankan kepada para pembaca dan para pendengar yang budiman untuk mengikuti secara sempurna percakapan antara penulis, yaitu Zamhasari Jamil bersama dengan Fahman Kamil, santri lulusan Pondok Pesantren Dar El-Hikmah, Pekanbaru, Riau. Saat ini, bang Fahman Kamil yang merupakan alumnus Department of Islamic Studies, Jamia Millia Islamia, New Delhi tersebut masih berstatus singel dan belum memiliki bayangan siapakah ratu atau gadis manakah yang akan menajadi pendamping hidupnya nanti?
Zamhasari Jamil (ZJ): Assalamu’alaikum, kaifa hâluka ya bang Fahman? Ad’uwallaha Ta’ala an takûna fi syiddati as-shihhah wa al-‘âfiah dâiman abada. (Kalimat berbahasa Arab yang dalam versi Indonesianya: Apa kabar bang Fahman? Do’a dan harapan saya semoga abang tetap sehat wal’afiat selalu).
Fahman Kamil (FK): Wa’alaikumsalam, Zam. Merci mille fois. Je suis trèn bien. (Kalimat berbahasa Francis yang dalam versi Indonesianya: Alhamdulillah, saya baik-baik saja).
ZJ: Bang Fahman, pada pertemua kita yang pertama ini, kita kan akan bercerita tentang seni dan irama dalam belajar Al-Qur’an. Menurut abang, sejak kapan sebaiknya seseorang itu sudah mulai belajar membaca Al-Qur’an?
FK: Nah, itu suatu pertanyaan yang cukup bagus sekali. Mempelajari Al-Qur’an itu hendaknya sudah dimulai sejak usia anak-anak. Ketika si anak berusia empat atau lima tahun, atau pada saat si anak masih berusia tiga tahun bila memungkinkan. Sebab pada masa ini, lidah anak masih lentur ibarat dahan yang masih muda, sehingga kita akan lebih mudah mengajarkan untuk melafadzkan huruf-huruf hijaiyah tersebut secara tepat dan benar. Perlu kita ingat, kesalahan dalam melafadzkan ayat-ayat Al-Qur’an akan mengakibatkan kesalahan makna Al-Qur’an itu sendiri. Sebagai contoh, [q]albu itu berarti hati dan [k]albu itu berarti anjing. Perbedaan antara huruf ‘qaf’ dan huruf ‘kaf’ itu sangat tipis sekali. Atau huruf ‘dzal’ dan huruf ‘jim’ seperti dalam kalimat [Z]akir dan [J]akir. Disitu, kalimat yang benar adalah ‘Zakir’ bukan ‘Jakir’. Begitu juga dalam kalimat “I[dza][ja]anashrullah, bukan I[ja][ja]anashrullah” atau dalam kalimat “ta[‘]lamun, bukan ta[k]lamun”, dimana banyak diantara kita yang menggantikan posisi huruf “’ain” dengan huruf “kaf”. Kesalahan-kesalahan semacam itu biasanya muncul karena pengaruh dialek bahasa setempat.
ZJ: Bagaimana caranya untuk mengajari anak-anak yang masih berusia Balita itu, Bang Fahman?
FK: Ooo …, caranya sangat mudah sekali. Guru yang mengajarkan anak tersebut, entah itu bapaknya, ibunya, abangnya atau kakaknya, terlebih dahulu memposisikan dirinya sebagai anak-anak juga. Artinya, guru yang mengajar anak itu harus bisa menyesuaikan diri dengan anak tersebut. Sebagai contoh, kita bisa mengajarnya sambil bermain dengannya, atau pada saat mengendongnya. Perlu kita perhatikan juga, saat mengajarkan Al-Qur’an kepada anak, jangan pernah membentaknya atau menyalahkan bacaannya. Sebaliknya, perbanyaklah memberi pujian dan bila bacaannya salah, jangan katakan ‘salah’, tapi katakanlah, “itu sudah hampir benar, dan yang lebih benar itu begini”. Dan kita juga jangan menuntut si anak supaya mengikuti kemauan kita, tapi kita yang harus mengikuti mereka. Bila kita tetap memaksakan supaya si anak yang harus mengikuti kehendak kita, maka mempelajari Al-Qur’an terasa sangat membosankan bagi seorang anak. Dan yang tidak kalah pentingnya dalam mengajarkan Al-Qur’an kepada orang yang baru memulai belajar Al-Qur’an itu, hendaknya seorang guru memahami betul metode yang tepat untuk mengajarkan Al-Qur’an tersebut kepada setiap pemula itu.
ZJ: Menurut abang, mana yang lebih utama didahulukan, belajar Al-Qur’an atau belajar sholat, dan mengapa?
FK: Nah, ini dia pertanyaan yang saya tunggu-tunggu dari tadi. Menurut saya, seorang anak lebih baik diajarkan membaca Al-Qur’an terlebih dahulu. Ada beberapa alasan mengapa saya katakan demikian. Pertama, belajar Al-Qur’an bisa sambil bermain, sedangkan belajar sholat harus tenang, fokus, teratur dan terarah. Karena itu tidak heran bila Rasulullah SAW pernah mengingatkan umatnya untuk mengajarkan sholat bila seorang anak tersebut sudah menginjak usia tujuh tahun. Kedua, bila si anak sudah mampu membaca Al-Qur’an, minimal mampu membaca dan kemudian menghafal surat Al-Fatihah dan surat-surat pendek, maka belajar sholat pun akan terasa lebih nikmat bagi si anak, sebab ia sudah menguasai sebagian bacaan-bacaan dalam setiap gerakan sholat.
Coba kamu bayangkan, bila kamu disuruh berdiri tanpa membaca sesuatu, terus ruku’, kemudian sujud dst., pastilah kamu akan bergumam, “saya ini sedang disuruh melakukan apa ya?” Begitu juga anak-anak yang tingkat keingintahuannya terhadap sesuatu itu juga cukup tinggi.
ZJ: Bagaimana mengatasi anak yang sulit untuk diajak belajar Al-Qur’an, bang Fahman?
FK: Seperti yang saya kemukakan di muka tadi, bahwa seorang guru, entah itu bapaknya, ibunya, abangnya atau kakaknya, terlebih dahulu memposisikan diri mereka sebagai anak-anak juga. Bila pendekatan semacam ini sudah dilakukan oleh kedua orang tuanya dan ternyata belum berhasil juga, berarti disitu ada faktor-faktor lain yang menyebabkan hilangnya rasa ketergantungan seorang anak kepada orang tuanya. Bila anak sudah merasa tak bergantung lagi dengan orang tuanya, maka si anak merasa tidak perlu mengikuti ajakan orang tuanya tersebut, dalam hal ini belajar Al-Quran. Dan pada zaman sekarang ini, faktor-faktor yang bisa menghilangkan rasa ketergantungan itu sangat banyak sekali.
Maaf-maaf, banyak diantara orang tua (parents) zaman sekarang hanya bisa melahirkan bayi, tapi tak bersedia untuk menyusui bayinya dan belum mampu untuk merawat dan mendidiknya secara benar. Sebagai contoh, banyak diantara anak-anak yang sebenarnya masih sangat membutuhkan ASI (air susu ibu) dan secara otomatis pula, pada saat si ibu menyusukan bayinya, disitu ada sentuhan lembut penuh kasih sayang dari seorang ibu kepada anaknya. Sentuhan dan belaian lembut itu tentu akan mempengaruhi perkembangan anak pada usia selanjutnya. Disitu, si anak akan merasa bahwa ada orang lain yang menyayanginya, memperhatikannya dan menemaninya.
Kini, posisi ASI tersebut sudah digantikan oleh susu lembu atau susu sapi. Dan tanggung jawab untuk merawat anakpun sudah dilimpahkan kepada pembantu. Sehingga, bagi pembantu yang tidak mahu bersusah-payah untuk mengendong bayi, maka ia akan menempatkan bayi dalam ayunan atau kursi roda. Bila si anak menangis, maka si anakpun akan disuguhkan beraneka ragam alat permainan dan air susu lembu atau air susu sapi. Dan bila si anak sudah merasa kenyang, lantas iapun akan tertidur dengan sendirinya. Ini salah satu faktor yang bisa menghilangkan rasa ketergantungan anak kepada kedua orang tuanya, khususnya kepada ibunya.
ZJ: Stop … stop … dulu bang Fahman. Abang ini kalau diberi kesempatan berbicara, semua waktu mahu diborong semua, iya kan? Hehehe. Bang Fahman, alasan apa kira-kira yang membuat orang tua, khususnya para ibu tidak bersedia menyusui dan belum mampu merawat bayinya itu, bang?
FK: Iya, itu semua tentunya dikarenakan kedua orang tuanya adalah orang-orang karir. Mengapa seorang ibu tidak bersedia untuk menyusui bayinya? Tentu banyak alasan. Ada sebagian diantara para ibu yang belum ingin payudaranya mengendur, sebab ia masih merasa perlu tampil menarik dalam setiap kesempatan, forum dan pertemuan. Selain itu, ada juga disebabkan oleh sempitnya kesempatan untuk menyusui bayinya.
Sudah tidak asing di telinga kita, banyak diantara para ibu meninggalkan rumah dan berangkat kerja (ke kantor) pada saat masih pagi sekali, sedangkan si bayi masih dalam keadaan tidur. Bahkan keberangkatan isteri tak jarang jauh lebih mendahului keberangkatan suami. Kemudian kehadiran ibu ke rumah pun juga setelah larut malam. Jelas, si anak pun sudah tidur kembali. Dengan demikian, anak tak dapat lagi merasakan sentuhan lembut penuh kasih sayang dari ibunya. Rasanya perlu kita sadari, sebaik apapun layanan yang diberikan oleh pembantu kepada seorang anak, itu semua tak ada artinya bila dibandingkan dengan layanan yang diberikan oleh ibu kandungnya sendiri.
Berkurangnya interaksi antara ibu atau orang tua dengan anaknya, juga merupakan faktor yang bisa menghilangkan rasa ketergantungan anak kepada orang tuanya. Bila ini terjadi, maka anak akan sulit untuk berkomunikasi dengan orang tuanya dan si anak juga akan sulit untuk menerima ajakan orang tuanya. Pemandangan yang sering kita saksikan di lingkungan keluarga, dimana seorang ayah lebih banyak menghabiskan waktnya di luar rumah karena kesibukan kerja, maka anak akan sulit untuk bisa akrab dengan ayahnya sendiri. Ia akan lebih merasa nyaman bila berada di sisi ibunya, karena memang ibunya hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa.
ZJ: Bang Fahman, apakah penjelasan abang ini ada kaitannya dengan slogan “Ibu itu adalah sekolah (pendidik) yang pertama (bagi anak)”?
FK: Tentu saja ada. Karena itu, dalam bahasa kita, kita sering mendengar ungkapan, “seorang ibu yang cerdas akan melahirkan generasi yang cerdas pula.” Disini, kata ‘cerdas’ tak hanya terbatas pada kemampuan untuk berfikir atau tingginya tingkat inteligensia seorang ibu, tapi ‘cerdas’ itu harus diterjemahkan secara luas, diantaranya, ‘bijak dan memiliki rasa tanggung jawab atau ada sense of responsibility’. Ibu-ibu karir itukan orang-orang cerdas, tapi karena ada faktor lain, maka sense of responsibility untuk menyusui dan merawat bayinya itu tenggelam bersamaan dengan besarnya gelombang tuntutan dunia kerja bagi ibu karir tersebut. Diantaranya, seperti yang saya katakan di awal tadi, adanya tuntutan untuk tampil menarik dan tuntutan untuk masuk kerja sejak pagi hari.
ZJ: Penjelasan abang ini cukup menggigit sekali. Apakah abang tak setuju dengan hadirnya wanita (ibu) karir?
FK: Hehehe, bukannya saya tak setuju dengan ibu karir, bahkan saya mempersilakan para ibu itu untuk berkarir. Tapi yang perlu digarisbawahi adalah, hendaknya karir tersebut masih dalam batas-batas yang wajar dan tidak mengabaikan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu bagi anaknya dan sebagai seorang isteri bagi suaminya. Kalau ada seorang ibu melalaikan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu karena keasikan mengejar karir, itu namanya sudah keluar dari batas-batas yang wajar. Misalnya, seorang ibu yang berangkat pagi dan pulang larut malam sehingga melewatkan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu, bagi saya, itu namanya ibu yang mengejar dunia. Dan dunia ini tak ada habisnya bila dikejar.
Dan satu hal lagi yang perlu diingat, suami yang mana yang tidak akan bahagia bila sebelum keberangkatannya ke kantor masih bisa memperoleh ciuman mesra dari isterinya. Dan kenakan dasi suami yang belum rapi, dirapikan oleh isterinya, bukan dirapikan oleh pembantunya. Kalaulah pembantu yang terus-menerus merapikan dasi suami yang belum rapi itu, dan pembantu pula yang mengenakan sepatu suami, maka jangan heran bila suatu saat “ciuman mesra” suami akan melayang kepada pembantu. Bila hal yang semacam itu sempat terjadi, maka bersiap-siaplah menunggu kedatangan “kiamat sughra” atau badai pertengkaran yang mengarah kepada perceraian di tengah-tengah keluarga itu.
ZJ: Itu dia baru bang Fahman namanya, uraiannya cukup meriah sekali. Terus bang, katakanlah si anak mau belajar Al-Qur’an, tapi orang tuanya tak bisa mengajarkan anaknya karena orag tuanya tersebut juga belum bisa membaca Al-Qur’an. Nah, siapakah yang harus mengajarkan Al-Qur’an kepada anak tersebut?
FK: Rasulullah SAW pernah mengingatkan kita begini, “sebaik-baik orang diantara kamu adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan (kemudian mau pula) mengajarkanya (kepada orang lain)”. Jelas, itu menjadi tanggung jawab kita yang bisa membaca Al-Qur’an dengan baik untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak mereka. Para orang tuanya hendaknya menghadirkan orang-orang yang bisa membaca Al-Qur’an dengan baik untuk mengajarkan anak-anak mereka. Dan pada saat yang sama, para orang tua juga tak perlu merasa malu untuk mempelajari Al-Qur’an. Kita memang tak boleh malu untuk belajar Al-Qur’an. Lagi pula, Al-Qur’an juga merupakan salah-satu tiket yang bernama “syafa’at” yang akan menghantarkan “Ashhabul Qur’an”, yaitu orang-orang yang selalu membaca dan mengamalkan isi Al-Qur’an menuju syurga. Untuk itu, kita tidak pantas untuk merasa malu untuk mendapatkan tiket syafa’at itu sebagaimana kita tidak pernah malu untuk mengejar berbagai kesenangan dan kenikmatan dunia yang sifatnya sementara ini.
ZJ: Bang, sepertinya percakapan kita ini udah terlalu panjang bang, mungkin ada pesan yang ingin abang sampaikan kepada para pembaca dan para pendengar kita di halaman Irama Dakwah ini?
FK: Saya kembali teringat dengan pesan Rasulullah SAW, “Nawwirû buyûtakum bis-sholati wa tilawatil Qur’an”. Artinya, “Hiasilah rumahmu dengan sholat dan bacaan Al-Qur’an”. Sebuah rumah yang sering dibacakan Al-Qur’an (kalimat-kalimat Allah) di dalamnya, maka rumah itu akan terasa nyaman dan tenteram untuk ditempati atau dihuni. Dan itulah pesan saya kepada para pembaca dan pendengar Irama Dakwah ini.
ZJ: Apakah bang Fahman akan mempersembahkan uraian ini kepada seseorang?
FK: Tentu saja kalau itu memang dibolehkan. Saya persembahkan bahasan ini kepada kedua orang tua saya, khususnya kepada ibu saya yang telah menyusui saya selama dua tahun. Kemudian saya persembahkan juga bahasan ini kepada para ibu yang masih memperhatikan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu, juga kepada calon-calon ibu, terutama kepada adik-adik saya Sri Wahyuni (Pekanbaru) dan Sri Hendayani (Pekanbaru) serta Nurzajili (Bagansiapiapi), teman-teman saya, Irmawati (Pekanbaru), Hariyanti (Pekanbaru), Rina Septilova (Pekanbaru), Rifa Arfitriana (Pekanbaru), Fatmawati (Pekanbaru), Nur Khalifah (Pekanbaru), Lilik Kusmawati (Pekanbaru), Eli Nurliana (Bagan Batu), Reni (Padang), Rista (Padang), Najmi Hayati (Mesir), Ida Abidin (Jakarta), Listy (Jakarta), Dwi Irwanti (Jakarta), Ria Hapsari (Jakarta) dan Disa Ayudian Pramudia (New Delhi).
ZJ: Bang, mengapa nama Nidia dan Rini tak abang sebut?
FK: Hehehe …, Nidia itukan “akkes” (baca: adik kesayangan) Mas. Dan kepalan tangan Mas itu sangat berbahaya bagi keselamatan jiwa saya. Bayangkan, jika kepalan tangan Mas yang sebesar tempurung kelapa itu melayang ke muka saya, kan bisa remuk wajah saya yang sudah mulai keriput ini. Sedang Rini tak saya sebut karena Rini itukan sudah menjadi isteri bang Alex Pane. Sebenarnya saya ingin menyebut nama Aila Idrusi, tapi saya ini bukan keturunan orang Arab, saya ini kan orang ‘ajam. Jadi saya itu, ya kalah saing sama Fachim Harharah. Dulu, saya ini sempat diperkenalkan oleh Buya Rizqon Khamami kepada Aila Idrusi tersebut dengan “Habib Kamil”, tapi Allah SWT masih memperlihatkan kepada saya bahwa yang haq (benar) itu akan tetap haq dan yang bathil (salah) itu akan tetap bathil. Alhamdulillah, saya tak menjadi seorang “Habib”. Kalau sempat saya ini menjadi seorang habib, maka kehadiran Fachim Harharah itu, keciiiil, hehehe.
ZJ: Oh ya bang, sebelum kita mengakhiri pembicaraan ini, saya ingin tahu mengapa abang ini diberi nama Fahman Kamil, dan artinya apa?
FK: Itu kan urusan kamu yang membuat dan menyusun tulisan ini. Dan kamulah yang lebih tahu mengapa kamu menggunakan nama Fahman Kamil dalam tulisan ini, hehehe. Bagaimana pun, Fahman Kamil itu artinya cukup bagus juga, yaitu, “Pemahaman yang sempurna”. Udah dulu ya, Zam. Saya sudah mengantuk dan biarkan saya tidur dulu. Assalamu’alaikum. (Bang Fahman pun masuk kedalam kelambu sufinya sembari menarik selimut tidurnya. Sesaat kemudian terdengar suara sengkurannya bak suara kokok ayam jantan hutan).
ZJ: Okelah bang kalau begitu. Terima kasih banyak atas kesediaan abang untuk berbagi cerita dengan para pembaca dan pendengar Irama Dakwah ini, dan wa’alaikumsalam juga bang. (ZJ pun masuk kedalam kelambu sufi tadi sambil berkata, “geser sedikit bang, perahu Lancang Kuning mau lewat”. Dan ZJ pun tertidur karena sudah mengantuk sekali).
Para pembaca dan para pendengar Irama Dakwah yang budiman, demikian dulu sekilas pembicaraan penulis dengan Fahman Kamil pada pertemuan yang pertama ini. Insya Allah, Fahman Kamil, pelajar Ilmu Politik di Aligarh Muslim University, India tersebut akan kembali hadir di Pondok Irama Dakwah ini pada waktu yang akan datang. Selamat menikmati hari-hari anda, dan tetaplah bersama kami. Wassalamu’alaikum Wr. Wb. []
Zamhasari Jamil, Pelajar Ilmu Politik asal Riau di Aligarh Muslim University, India.

2 Comments:
Assalamu'alaikum wrwb,
Tulisan ini dibaca anak saya Aisyah yang telah selesai Iqranya dan ia membantu saya mengajar adiknya membaca Iqra, adiknya dua orang Abdulah 3 thn dan Hadi 2 thn.
tulisannnya bsgu ne, soalny sy lg nyari2 refernsi buat bljar ne.....
mkch ya
Post a Comment
<< Home